Jumat, 24 Juni 2011

Nuansa Bedek dalam Arsitektur, Natural dan Tradisional


Siapa yang tidak tahu bedek? Orang Indonesia pasti tidak asing dengan material bangunan yang satu ini. Bedek merupakan anyaman yang terbuat dari bahan bambu (kulit terluar dari batang bambu) dengan beragam bentuk dan warna.


Selain bedek, pada beberapa wilayah di Indonesia, anyaman bambu ini juga disebut dengan gedek atau kepang. Bahan bambu memang memiliki suatu daya tarik tersendiri apabila dipergunakan sebagai material untuk konstruksi suatu bangunan maupun untuk bahan finishing. Hampir seluruh bagian dari suatu bangunan dapat dibuat dari bahan ini, mulai dari atap, dinding, kolom, lantai hingga perabotan rumah yang ada didalamnya. Salah satu yang sering dijumpai adalah penggunaan kulit terluar batang bambu yang dianyam dengan berbagai bentuk dan warna sebagai bahan finishing dari suatu bangunan, baik untuk finishing pada bagian dinding, plafond maupun kolom atau tiang bangunan.

Bagaimana Bedek Dibuat ?
Proses pembuatan bedek membutuhkan keterampilan dan kreativitas dalam mengolah setiap batang bambu yang telah dipilih. Pemilihan batang bambu yang tepat adalah bambu yang memiliki serat yang padat dan sangat lentur dengan umur sekitar 2 tahun. Selain itu batang bambu sebaiknya berukuran besar dengan diameter sekitar 10-15 cm, dinding buluh yang tebal serta memiliki ruas dengan panjang minimal 35-40 cm.
Batang bambu yang telah ditebang, sebelum digunakan untuk keperluan bedek ini, sebaiknya dilakukan pengawetan. Hal ini disebabkan bahan bambu sangat mudah mengalami kerusakan akbibat berbagai faktor diantaranya iklim, kelembaban udara, air hujan, sinar matahari, suhu atau serangan seranggadan jamur. Pengawetan bambu dapat dilakukan dengan cara alami yaitu melalui proses pengeringan dilanjutkan dengan perendaman dalam air dingin atau perebusan dalam air mendidih selama 2-3 jam. Cara pengawetan yang lain dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia melalui proses perebusan.

Bambu yang telah melalui proses pengawetan, dilakukan proses pengulitan dan pembelahan. Sebaiknya pada proses pembelahan, disesuiakan dengan ukuran pilahan dari bedek yang akan dibuat. Sebelum dilakukan proses anyaman, dapat dilakuakan pewarnaan. Untuk lebih awet, lembaran anyaman bambu dapat diberi pernis maupun cat sesuai dengan warna yang diinginkan.
Ragam Corak Bedek
Pada awalnya corak bedek yang dikenal hanyalah corak yang disusun selang-seling sehingga menyerupai pola papan catur. Namun kini corak yang ditawarkan lebih beragam dengan pola dan warna yang lebih menarik.





Aplikasi Bedek pada Bangunan
Material bedek dinilai memiliki karakter yang unik dimana memberikan kesan tradisional dan natural dari suatu bangunan, sehingga kini penggunaan material ini tidak hanya digunakan pada dinding saja, tapi juga banyak digunakan pada bagian plafond, penutup tiang atau kolom hingga beragam perabotan.





• Plafond
Untuk konstruksi atap yang diekspos (terbuka), biasanya penggunaan material bedek diletakkan pada bagian dibawah genteng sehingga terlihat lebih rapi dari dalam ruangan. Selain terlihat lebih menarik, material bedek juga memiliki daya tahan yang cukup lama.
• Dinding dan Kolom atau Tiang
Material bedek sudah lazim digunakan pada bagian dinding. Namun kini lebih digunakan sebagai finishing dari konstruksi dinding. Selain itu kini dengan pola yang dikombinasikan, banyak pula bedek yang digunakan sebagai partisi ruangan, sehingga terkesan unik.
• Perabotan
Untuk lebih memberikan kesan tradisional dari ruangan, banyak pula dipilih material bedek untuk melapisi beberapa perabotan maupun pajangan.

Jadi dengan karakter yang unik, bedek dapat menjadi salah satu pilihan material untuk finishing dari rumah anda yang ingin bergaya tradisional dan natural. Selain murah, mudah didapat dan mudah dalam pengaplikasian, material ini juga dapat dipadupadankan dengan berbagai jenis material lainnya. Selain itu apabila dibuat melalui proses yang tepat, material bedek memiliki daya tahan yang cukup lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar